Sekolah menengah kejuruan (SMK) ma’arif 1 Kalirejo, merupakan sekolahan yang memiliki visi dan misi menciptakan siswa berprestasi yang kelak setelah lulus nanti dapat membanggakan. Sehingga para siswa dituntut memiliki keterampilan khusus disertai dengan prestasi yang baik.
Sebuah instansi harus mengmbil keputusan yang tepat, bila hal ini dilakukan dengan baik dan benar maka akan menghasilkan pemilihan siswa yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan kelak nanti.
Untuk melakukan proses seleksi tersebut maka perlu di bentuk suatu sistem pendukung keputusan guna menyelesaikan masalah yang ada yaitu menggunakan Analitycal Hierachy Proses (AHP) sebagai metode pengambilan keputusan.
Metode AHP adalah metode sintesa dari perhitungan eigen vector berbasis pada matriks pebandingan berpasangan dari prameter kriteria dan alternatif yang berasal langsung dari responden. Pada metode ini peneliti menggunakan empat faktor kriteria yaitu :
Prestasi, Kehadiran (absensi), sikap dan bakat. Hasil dari penelitan ini memudahkan pengambilan keputusan dalam menentukan siswa berprestasi dengan kriteria-kriteria yang telah disusun dengan menggunaka metode AHP.
Kata Kunci : SPK, Analytical Hierarchy Prosess (AHP), Pemilihan siswa berprestasi, sistem pengambilan keputusan.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma’arif 1 Kalirejo berdiri pada tahun 1998. Terletak di daerah kalirejo di bawah naungan yayasan Ma’arif. Salah satu Visi Misi SMK Ma’arif adalah menciptakan siswa/i nya dapat berprestasi dibidang apapun, berprestasi yang kelak setelah lulus nanti dapat membanggakan.
Sehingga para siswa dituntut memiliki keterampilan khusus disertai dengan prestasi yang baik. Dalam kehidupan, manusia selalu dihadapkan pada permasalahan untuk mengambil suatu keputusan. Hal ini juga terjadi pada SMK Ma’arif dalam proses pemilihan siswa berprestsi.
Manfaat proses pemilihan ini adalah untuk mencapai akhir yang diinginkan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Pemilihan siswa berprestasi di setiap sekolahan pada umumnya berdasarkan nilai rapot, siswa yang menduduki peringkat 1 sampai 3 tingkat sekolahan akan dianggap sebagai siswa berprestasi dan mendapatkan bea siswa.
Dengan cara seperti ini terkadang menimbulkan ketidak adilan, maka dari itu dalam pengambilan keputusan siswa berprestasi tidak hanya dilihat dari prestasinya tetapi dilihat dari kehadiran, sikap dan bakat.
Sebuah instansi harus mengambil suatu keputusan dengan tepat, bila hal ini dilakukan dengan baik dan benar maka akan menghasilkan pemilihan siswa yang berkualitas dan dapat dipertanggung jawabkan kelak nanti.
Untuk mendukung melakukan proses seleksi tersebut maka perlu di bentuk suatu sistem pendukung keputusan untuk menentukan keputusan yang diambil agar menyelesaikan masalah yang ada.
Sistem Pengambilan Keputusan (SPK) adalah bagian dari Sistem Informasi berbasis komputer, termasuk system berbasis pengetahuan (managemen pengetahuan) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau sebuah perusahaan.
Konsep sistem pendukung keputusan diperkenalkan pertama kali oleh Michael S. Scoott Morton pada tahun 1970-an dengan istilah Management Decision System (Sprague, 1982).
SPK dirancang untuk mendukung seluruh tahap pengambilan keputusan mulai dari mengidentifikasi masalah, memilih data yang relavan, dan menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, sampai mengevaluasi pemilihan alternatif.
Sistem pendukung keputusan ini membantu melakukan penilaian setiap siswa. Sehinnga memudahkan pengambilan keputusan yang terkait dengan masalah penyeleksian siswa berprestasi pada SMK Ma’arif 1 Kalirejo. Penelitian ini mencoba menggunakan metode Analitycal Hierachy Proses (AHP).
Metode ini cukup efektif dalam menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan memecahkan masalah menjadi beberapa bagian.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperoleh dua rumusan masalah untuk melakukan penelitian tentang sistem pendukung keputusan seleksi siswa berprestasi pada sekolah menengah kejuruan (SMK) Ma’arif 1 Kalirejo yaitu :
- Bagaimana model sistem pendukung keputusan pemilihan siswa berprestasi yang berbasis komputer dengan menggunakan metode AHP?
- Bagaimana metode AHP dapat memberikan solusi dalam permasalahan pemilihan siswa berprestasi pada SMK Ma’arif 1 Kalirejo?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan E-jurnal ini untuk mengaplikasikan Sistem Pendukung Keputusan dengan menggunakan metode Analitycal Hierachy Proses (AHP) untuk menentukan pemilihan siswa berprestasi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma’arif 1 Kalirejo adalah :
- Mempermudah unsur pimpinan menentukan siswa berprestasi d Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma’arif 1 Kalirejo
- Penggunaan metode Analitycal Hierachy Proses (AHP) untuk sistem pendukung keputusan siswa berprestasi pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma’arif 1 Kalirejo.
1.4 Manfaat Penelitian
Mafaat yang didapat dalam pembuatan aplikasi ini antara lain :
- Dapat membantu kerja Tim penyeleksi siswa berpresatasi dalam melakukan penyeleksian siswa berprestasi
- Dapat mempercepat proses penyeleksian
- Dapat mempermudah tim penyeleksi dalam menentukan siswa berprestasi.
2. TINJAUAN PUSTKA
2.1 Definisi Sistem Pendukung Keputusan
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) adalah sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah dengan kondisi semi terstruktur dan tak terstruktur.
Sistem ini digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam situasi semi terstruktur dan situasi yang tidak terstruktur, dimana tak seorangpun tahu secara pasti bagaimana keputusan seharusnya dibuat (Turban, 2001).
SPK bertujuan untuk menyediakan informasi, membimbing, memberikan prediksi serta mengarahkan kepada pengguna informasi agar dapat melakukan pengambilan keputusan dengan lebih baik.
Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK) / Decision Support Sistem (DSS) pertama kali diungkapkan pada awal tahun 1970-an oleh Michael S. Scott Morton dengan istilah Management Decision Sistem. Sistem tersebut adalah suatu sistem yang berbasis komputer yang ditujukan untuk membantu pengambil keputusan dengan memanfaatkan data dan model tertentu untuk memecahkan berbagai persoalan yang tidak terstruktur.
Istilah SPK mengacu pada suatu sistem yang memanfaatkan dukungan komputer dalam proses pengambilan keputusan Menurut Turban & Aronson (1998) Sistem penunjang keputusan sebagai sistem yang digunakan untuk mendukung dan membantu pihak manajemen melakukan pengambilan keputusan pada kondisi semi terstruktur dan tidak terstruktur.
Pada dasarnya konsep DSS hanyalah sebatas pada kegiatan membantu para manajer melakukan penilaian serta menggantikan posisi dan peran manajer.
Sedangkan menurut Bonczek (1980) Sistem pendukung keputusan sebagai sebuah sistem berbasis komputer yang terdiri atas komponen-komponen antara lain komponen sistem bahasa (language), komponen sistem pengetahuan (knowledge) dan komponen sistem pemrosesan masalah (problem processing) yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Menurut Simon (Suryadi dan Ramdhani,2002,h.15-16) model yang menggambarkan proses pengambilan keputusan, proses ini terdiri dari tiga fase, yaitu sebagai berikut :
a. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses dan diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah.
b. Design
Tahap ini merupakan proses menentukan, mengembangkan dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi.
c. Choise
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian diiplementasikan dalam proses pengambilan keputusan. Meskipun implementasi termasuk tahap ketiga, namun ada beberapa pihak berpendapat bahwa tahap ini perlu dipandang sebagai bagian yang terpisah guna menggambarkan hubungan antar fase secara komprehensif.
2.2 Analitycal Hierachy Proses (AHP)
Analytical Hierarchy Process (AHP). Diikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970-an. Metode ini merupakan salah satu model pengambilan keputusan multikriteria yang dapat membantu kerangka berpikir manusia dimana faktor logika, pengalaman pengetahuan, emosi dan rasa dioptimasikan ke dalam suatu proses sistematis.
Pada dasarnya, AHP merupakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam kelompok-kelompoknya, dengan mengatur kelompok tersebut ke dalam suatu hierarki, kemudian memasukkan nilai numerik sebagai pengganti persepsi manusia dalam melakukan perbandingan relatif. Dengan suatu sintesa maka akan dapat ditentukan elemen mana yang mempunyai prioritas tertinggi.
Menurut Badiru (1995), AHP merupakan suatu pendekatan praktis untuk memecahkan masalah keputusan kompleks yang meliputi perbandinagn alternatif. AHP juga memungkinkan pengambilan keputusan menyajikan hubungan hierarki antara faktor, atribut, karakteristik atau alternative dalam lingkungan pengambilan keputusan.
Dengan ciri-ciri khusus, hierarki yang dimilikinya, masalah kompleks yang tidak terstruktur dipecahkan dalam kelompok kelompoknya. Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahami diantaranya adalah :
1. Decomposition (Penyusunan Hirarki).
Setelah persoalan didefenisikan, maka perlu dilakukan decomposition yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur – unsurnya.
2. Comparative Judgement (Penilaian Perbandingan Berpasangan)
Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relative 2 (dua) elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya.Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas elemen – elemen.
3. Sintesa Prioritas
Sintesa prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap elemen dalam level yang dipengaruhi kriteria.

Pengunjung yang Bijak selalu meninggalkan Jejak berupa Komentar.
EmoticonEmoticon